KENAKALAN
REMAJA AKIBAT KURANGNYA PERHATIAN DARI ORANG TUA
DWI
SRI UTAMI
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH PALANGKA RAYA
ABSTRAK
Penelitian
yang saya lakukan ini bertujuan untuk mengetahui apa saja bentuk – bentuk
kenakalan yang dialami remaja. Kenakalan remaja terjadi karena kurangnya
perhatian dari orang tua, orang tua yang terlalu sibuk membuat remaja kurang
mendapat perhatian sehingga ia melakukan hal – hal yang tidak sesuai dengan
remaja pada umumnya. Seharusnya para orang tua mengetahui apa saja yang kegiatan
yang diikuti anaknya supaya tidak terjadi masalah – masalah yang tidak
diinginkan para orang tua terhadap anaknya.
Kata kunci : kenakalan remaja dan orang tua
PENDAHULUAN
Kenakalan remaja adalah
perilaku yang menyimpang dari kebiasaan yang melanggar hukum. Menurut Jensen
(1985) Kenakalan remaja ini terbagi
menjadi empat jenis yaitu:
1. Kenakalan
yang dapat menimbulkan korban fisik pada orang lain : perkelahian, perkosaan,
perampokan pembunuhan, dan lain – lain.
2. Kenakalan
yang menimbulkan korban materi : perusakan, pencurian, pencopetan pemerasan,
dan lain – lain
3. Kenakalan
sosial yang tidak menimbulkan korban pihak orang lain : pelacuran,
penyalahgunaan obat. Di indonesia mungkin dapat juga dimaksukkan hubungan seks
sebelum menikah.
4. Kenakalan
yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan
cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara pergi dari rumah atau
membantah perintah orang tua dan sebagainya.
Dalam menghadapi
remaja, ada beberapa hal yang harus selalu diingat, yaitu bahwa jiwa remaja
adalah jiwa yang bergejolak (strum und drang) . kondisi internal dan eksternal
yang sama – sama bergejolak inilah yang menyebabkan masa remaja memang lebih
rawan daripada tahap – tahap lain dalam perkembangan jiwa manusia.
Untuk mengurangi benturan yang
bergejolak itu dan untuk memberi kesempatan agar remaja dapat mengembangkan
dirinya secara lebih optimal, perlu diciptakan kondisi lingkungan terdekat yang
stabil mungkin, khususnya lingkungan keluarga. Keadaan keluarga yang ditandai
dengan hubungan orang tua yang harmonis akan lebih menjamin remaja bisa
melewati masa remajanya dengan mulus. Kondisi dirumah tangga dengan adanya
orang tua dan saudara – saudara akan lebih menjamin kesejahteraan jiwa remaja.
PEMBAHASAN
Menurut penelitian yang
saya bahas kenakalan remaja terjadi karena kurangnya perhatian yang diberikan oleh
orang tua terhadap anak sehingga si anak melakukan hal – hal yang tidak diduga
oleh si orang tua, selain itu anak melakukan penyimpangan karena hubungan
antara ayah dan ibu yang tidak harmonis sehingga dia berfikiran tidak ada
kebahagiaan yang ada dalam rumahnya akhirnya dia memilih untuk melakukan
penyimpangan di luar yang menurutnya bisa membuat bahagia.
Menurut Jensen (1985) Kenakalan remaja ini terbagi menjadi empat
jenis yaitu:
1. Kenakalan
yang dapat menimbulkan korban fisik pada orang lain : perkelahian, perkosaan,
perampokan pembunuhan, dan lain – lain.
2. Kenakalan
yang menimbulkan korban materi : perusakan, pencurian, pencopetan pemerasan,
dan lain – lain
3. Kenakalan
sosial yang tidak menimbulkan korban pihak orang lain : pelacuran,
penyalahgunaan obat. Di indonesia mungkin dapat juga dimaksukkan hubungan seks
sebelum menikah.
4. Kenakalan
yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan
cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara pergi dari rumah atau
membantah perintah orang tua dan sebagainya.
Permasalahan yang saya
amati yaitu termasuk dalam kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di
pihak orang lain yaitu berhubungan seks di luar nikah. Banyak remaja – remaja
sekarang ini melakukan hal – hal yang di larang oleh agama salah satunya yaitu
melakukan hubungan seks di luar nikah. Remaja yang seperti inilah yang saat ini
banyak kita jumpai, banyak anak – anak SMA putus sekolah karena hubungan seks
yang mereka lakukan. Masalah ini pula yang dialami oleh teman saya waktu masih
SMA, dia melakukan hubungan seks diluar nikah dengan pacarnya hingga akhirnya
dia hamil. Hingga menyebabkan dia putus sekolah dan orang tuanya pun sempat
tidak menerima keadaan itu karena orang tuanya berfikir itu membuat keluarganya
malu. Seharusnya jika orang tua tidak menginginkan hal itu terjad,i orang tua
harus bisa mengerti apa yang dikerjakan anaknya dan harus memantau apa saja
yang di kegiatan anak saat tak bersamanya. Orang tua sebagai pengaruh yang
paling menentukan sikap anak seharusnya bisa menciptakan keadaan keluarga yang
ditandai dengan hubungan suami – istri yang harmonis akan menjamin remaja yang
bisa melewati masa transisinya dengan mulus. Kondisi rumah dengan adanya orang
tua yang lengkap dan saudara – saudara akan menjamin kesejahteraan jiwa remaja
dari pada asrama. Karena itu tindakan pencegahan paling utama adalah berusaha
menjaga keutuhn dan keharmonisan keluarga sebaik – baiknya.
Remaja yang sudah
terlanjur menyimpang seperti ini perlu adanya penanganan, penanganan terhadap
perilaku menyimpang ini menurut Rogers (Adams & gullotta, 1983 : 56 – 57)
yaitu :
1. Kepercayaan
: remaja itu harus percaya kepada orang yang mau membantunya (orang tua, guru,
psikologi), ia harus yakin bahwa penolong ini tidak akan membohonginya dan
bahwa kata – kata penolong memang benar adanya.
2. Kemurnian
hati : remaja harus merasa bahwa penolong itu sungguh – sungguh mau membantunya
tanpa syarat.
3. Kemampuan
mengerti dan menghayati (emphaty) perasaan remaja.
4. Kejujuran
: remaja mengharapkan penolongnya menyampaikan apa adanya saja, termasuk hal –
hal yang kurang menyenangkan.
5. Mengutamakan
persepsi remaja sendiri
KESIMPULAN
DAN SARAN
Kesimpulan, Menurut
Jensen (1985) Kenakalan remaja ini
terbagi menjadi empat jenis yaitu:
1. Kenakalan
yang dapat menimbulkan korban fisik pada orang lain : perkelahian, perkosaan,
perampokan pembunuhan, dan lain – lain.
2. Kenakalan
yang menimbulkan korban materi : perusakan, pencurian, pencopetan pemerasan,
dan lain – lain
3. Kenakalan
sosial yang tidak menimbulkan korban pihak orang lain : pelacuran,
penyalahgunaan obat. Di indonesia mungkin dapat juga dimaksukkan hubungan seks
sebelum menikah.
4. Kenakalan
yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan
cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara pergi dari rumah atau
membantah perintah orang tua dan sebagainya.
Orang tua sebagai
pengaruh yang paling menentukan sikap anak seharusnya bisa menciptakan keadaan
keluarga yang ditandai dengan hubungan suami – istri yang harmonis akan
menjamin remaja yang bisa melewati masa transisinya dengan mulus. Kondisi rumah
dengan adanya orang tua yang lengkap dan saudara – saudara akan menjamin
kesejahteraan jiwa remaja dari pada asrama. Karena itu tindakan pencegahan
paling utama adalah berusaha menjaga keutuhn dan keharmonisan keluarga sebaik –
baiknya.
Remaja yang sudah terlanjur menyimpang seperti ini
perlu adanya penanganan, penanganan terhadap perilaku menyimpang ini menurut
Rogers (Adams & gullotta, 1983 : 56 – 57) yaitu :
1. Kepercayaan
: remaja itu harus percaya kepada orang yang mau membantunya (orang tua, guru,
psikologi), ia harus yakin bahwa penolong ini tidak akan membohonginya dan
bahwa kata – kata penolong memang benar adanya.
2. Kemurnian
hati : remaja harus merasa bahwa penolong itu sungguh – sungguh mau membantunya
tanpa syarat.
3. Kemampuan
mengerti dan menghayati (emphaty) perasaan remaja.
4. Kejujuran
: remaja mengharapkan penolongnya menyampaikan apa adanya saja, termasuk hal –
hal yang kurang menyenangkan.
5. Mengutamakan
persepsi remaja sendiri
Saran yang tepat untuk
menyelesaikan masalah ini adalah sebagai berikut : sebaiknya remaja yang
seperti ini harus di beri perhatian yang lebih dari kedua orang tuanya, diberi
bimbingan tentang agama, pendidikan dan norma – norma agar remaja – remaja
tersebut tahu bahwa perbuatan yang mereka lakukan itu salah dan menyimpang.
DAFTAR PUSTAKA
Jensen (1985) dalam buku Sarwono, Sarlito W. 2010. Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers
Rogers (Adams & gullotta, 1983 : 56 – 57) dalam
buku Sarwono, Sarlita W. 2007. Psikologi
Remaja. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Tidak ada komentar:
Posting Komentar