Selasa, 04 November 2014

Artikel



KENAKALAN REMAJA AKIBAT KURANGNYA PERHATIAN DARI ORANG TUA
DWI SRI UTAMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKA RAYA

ABSTRAK
            Penelitian yang saya lakukan ini bertujuan untuk mengetahui apa saja bentuk – bentuk kenakalan yang dialami remaja. Kenakalan remaja terjadi karena kurangnya perhatian dari orang tua, orang tua yang terlalu sibuk membuat remaja kurang mendapat perhatian sehingga ia melakukan hal – hal yang tidak sesuai dengan remaja pada umumnya. Seharusnya para orang tua mengetahui apa saja yang kegiatan yang diikuti anaknya supaya tidak terjadi masalah – masalah yang tidak diinginkan para orang tua terhadap anaknya.
Kata kunci : kenakalan remaja dan orang tua

PENDAHULUAN
Kenakalan remaja adalah perilaku yang menyimpang dari kebiasaan yang melanggar hukum. Menurut Jensen (1985)  Kenakalan remaja ini terbagi menjadi empat jenis yaitu:
1.      Kenakalan yang dapat menimbulkan korban fisik pada orang lain : perkelahian, perkosaan, perampokan pembunuhan, dan lain – lain.
2.      Kenakalan yang menimbulkan korban materi : perusakan, pencurian, pencopetan pemerasan, dan lain – lain
3.      Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban pihak orang lain : pelacuran, penyalahgunaan obat. Di indonesia mungkin dapat juga dimaksukkan hubungan seks sebelum menikah.
4.      Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara pergi dari rumah atau membantah perintah orang tua dan sebagainya.
Dalam menghadapi remaja, ada beberapa hal yang harus selalu diingat, yaitu bahwa jiwa remaja adalah jiwa yang bergejolak (strum und drang) . kondisi internal dan eksternal yang sama – sama bergejolak inilah yang menyebabkan masa remaja memang lebih rawan daripada tahap – tahap lain dalam perkembangan jiwa manusia.
            Untuk mengurangi benturan yang bergejolak itu dan untuk memberi kesempatan agar remaja dapat mengembangkan dirinya secara lebih optimal, perlu diciptakan kondisi lingkungan terdekat yang stabil mungkin, khususnya lingkungan keluarga. Keadaan keluarga yang ditandai dengan hubungan orang tua yang harmonis akan lebih menjamin remaja bisa melewati masa remajanya dengan mulus. Kondisi dirumah tangga dengan adanya orang tua dan saudara – saudara akan lebih menjamin kesejahteraan jiwa remaja.
PEMBAHASAN

Menurut penelitian yang saya bahas kenakalan remaja terjadi karena kurangnya perhatian yang diberikan oleh orang tua terhadap anak sehingga si anak melakukan hal – hal yang tidak diduga oleh si orang tua, selain itu anak melakukan penyimpangan karena hubungan antara ayah dan ibu yang tidak harmonis sehingga dia berfikiran tidak ada kebahagiaan yang ada dalam rumahnya akhirnya dia memilih untuk melakukan penyimpangan di luar yang menurutnya bisa membuat bahagia.
 Menurut Jensen (1985)  Kenakalan remaja ini terbagi menjadi empat jenis yaitu:
1.      Kenakalan yang dapat menimbulkan korban fisik pada orang lain : perkelahian, perkosaan, perampokan pembunuhan, dan lain – lain.
2.      Kenakalan yang menimbulkan korban materi : perusakan, pencurian, pencopetan pemerasan, dan lain – lain
3.      Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban pihak orang lain : pelacuran, penyalahgunaan obat. Di indonesia mungkin dapat juga dimaksukkan hubungan seks sebelum menikah.
4.      Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara pergi dari rumah atau membantah perintah orang tua dan sebagainya.
Permasalahan yang saya amati yaitu termasuk dalam kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain yaitu berhubungan seks di luar nikah. Banyak remaja – remaja sekarang ini melakukan hal – hal yang di larang oleh agama salah satunya yaitu melakukan hubungan seks di luar nikah. Remaja yang seperti inilah yang saat ini banyak kita jumpai, banyak anak – anak SMA putus sekolah karena hubungan seks yang mereka lakukan. Masalah ini pula yang dialami oleh teman saya waktu masih SMA, dia melakukan hubungan seks diluar nikah dengan pacarnya hingga akhirnya dia hamil. Hingga menyebabkan dia putus sekolah dan orang tuanya pun sempat tidak menerima keadaan itu karena orang tuanya berfikir itu membuat keluarganya malu. Seharusnya jika orang tua tidak menginginkan hal itu terjad,i orang tua harus bisa mengerti apa yang dikerjakan anaknya dan harus memantau apa saja yang di kegiatan anak saat tak bersamanya. Orang tua sebagai pengaruh yang paling menentukan sikap anak seharusnya bisa menciptakan keadaan keluarga yang ditandai dengan hubungan suami – istri yang harmonis akan menjamin remaja yang bisa melewati masa transisinya dengan mulus. Kondisi rumah dengan adanya orang tua yang lengkap dan saudara – saudara akan menjamin kesejahteraan jiwa remaja dari pada asrama. Karena itu tindakan pencegahan paling utama adalah berusaha menjaga keutuhn dan keharmonisan keluarga sebaik – baiknya.

Remaja yang sudah terlanjur menyimpang seperti ini perlu adanya penanganan, penanganan terhadap perilaku menyimpang ini menurut Rogers (Adams & gullotta, 1983 : 56 – 57) yaitu :
1.      Kepercayaan : remaja itu harus percaya kepada orang yang mau membantunya (orang tua, guru, psikologi), ia harus yakin bahwa penolong ini tidak akan membohonginya dan bahwa kata – kata penolong memang benar adanya.
2.      Kemurnian hati : remaja harus merasa bahwa penolong itu sungguh – sungguh mau membantunya tanpa syarat.
3.      Kemampuan mengerti dan menghayati (emphaty) perasaan remaja.
4.      Kejujuran : remaja mengharapkan penolongnya menyampaikan apa adanya saja, termasuk hal – hal yang kurang menyenangkan.
5.      Mengutamakan persepsi remaja sendiri

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan, Menurut Jensen (1985)  Kenakalan remaja ini terbagi menjadi empat jenis yaitu:
1.      Kenakalan yang dapat menimbulkan korban fisik pada orang lain : perkelahian, perkosaan, perampokan pembunuhan, dan lain – lain.
2.      Kenakalan yang menimbulkan korban materi : perusakan, pencurian, pencopetan pemerasan, dan lain – lain
3.      Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban pihak orang lain : pelacuran, penyalahgunaan obat. Di indonesia mungkin dapat juga dimaksukkan hubungan seks sebelum menikah.
4.      Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara pergi dari rumah atau membantah perintah orang tua dan sebagainya.
Orang tua sebagai pengaruh yang paling menentukan sikap anak seharusnya bisa menciptakan keadaan keluarga yang ditandai dengan hubungan suami – istri yang harmonis akan menjamin remaja yang bisa melewati masa transisinya dengan mulus. Kondisi rumah dengan adanya orang tua yang lengkap dan saudara – saudara akan menjamin kesejahteraan jiwa remaja dari pada asrama. Karena itu tindakan pencegahan paling utama adalah berusaha menjaga keutuhn dan keharmonisan keluarga sebaik – baiknya.
Remaja yang sudah terlanjur menyimpang seperti ini perlu adanya penanganan, penanganan terhadap perilaku menyimpang ini menurut Rogers (Adams & gullotta, 1983 : 56 – 57) yaitu :
1.      Kepercayaan : remaja itu harus percaya kepada orang yang mau membantunya (orang tua, guru, psikologi), ia harus yakin bahwa penolong ini tidak akan membohonginya dan bahwa kata – kata penolong memang benar adanya.
2.      Kemurnian hati : remaja harus merasa bahwa penolong itu sungguh – sungguh mau membantunya tanpa syarat.
3.      Kemampuan mengerti dan menghayati (emphaty) perasaan remaja.
4.      Kejujuran : remaja mengharapkan penolongnya menyampaikan apa adanya saja, termasuk hal – hal yang kurang menyenangkan.
5.      Mengutamakan persepsi remaja sendiri
Saran yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini adalah sebagai berikut : sebaiknya remaja yang seperti ini harus di beri perhatian yang lebih dari kedua orang tuanya, diberi bimbingan tentang agama, pendidikan dan norma – norma agar remaja – remaja tersebut tahu bahwa perbuatan yang mereka lakukan itu salah dan menyimpang.

DAFTAR PUSTAKA
Jensen (1985) dalam buku Sarwono, Sarlito W. 2010. Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers
Rogers (Adams & gullotta, 1983 : 56 – 57) dalam buku Sarwono, Sarlita W. 2007. Psikologi Remaja. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Tidak ada komentar:

Posting Komentar